Langsung ke konten utama

Keliling Singapore-Malaysia 7 hari cuma 1jutaan - Day 6

Selamat pagi cikgu!

Bangun agak siang lalu langsung mandi, setoran, beberes, lalu check out. Sarapan dulu di KFC seberang jalan. KFC disini menu breakfastnya pakai nasi hainan, ayam sepotong gede, telor ceplok, sama kopi. Harganya murah banget cuma MYR 5,9. Kenyang makan, saya jalan ke stasiun Bukit Bintang lagi untuk menuju ke Batu Caves.

Cara menuju Batu Caves, dari Bukit Bintang balik lagi ke KL Sentral. Pokoknya kalo mau kemana-mana pusatnya ya di KL Sentral ini. Dari KL Sentral, naik KTM sekali lagi menuju ke stasiun Batu Caves. Berdaarkan jadwal, keretanya akan datang sekitar 15 menit sekali. Perjalanan dari KL Sentral menuju Batu Caves lumayan jauh juga ternyata. Sekitar 30 menit lebih barulah kereta memasuki stasiun Batu Caves.

Keluar dari stasiun kita akan langsung disambut oleh patung raksasa. Saya sendiri kurang tahu nama dari patung-patung yang ada disini karena memang kurang mengeksplore lebih dalam. Lanjut menyusuri jalan setapak mengikuti arah keramaian, saya akhirnya tiba di pelataran luas di depan Batu Caves dengan ratusan (atau ribuan) anak tangganya yang menjulang tinggi menuju arah gua, dengan patung dewa berukuran super besar tepat di depan guanya.



Mengingat jauhnya jarak tempuh untuk memasuki gua dengan berjalan kaki menaiki tangga super tinggi itu, tidak terlalu disarankan bagi yang tidak terbiasa berolahraga untuk naik ke atas. Karena capeknya bukan cuma pas naik aja, turunnya pun juga capek. Saya sendiri jarang olahraga, tapi berhubung udah jauh2 kesini ya nekat aja naik ke atas. Sepanjang perjalanan menaiki tangga saya liat beberapa orang keturunan India yang naik turun membawa barang2 seperti minuman dsb dari bawah untuk dijual di kios yang ada di atas. Sepertinya pekerjaan rutin mereka memang seperti itu, tiap hari naik turun angkat2 barang2 berat. Luar biasak.

Selama menaiki tangga kita juga bakal dihibur dengan hadirnya monyet-monyet yang meminta cemilan ke pengunjung. Di gua ini memang banyak populasi monyet yang masih alami. Selain monyet, banyak juga kelelawar yang baru bisa ditemui setelah memasuki mulut gua.

Akhirnya setelah susah payah, saya sampai juga di mulut gua. Begitu memasuki gua dengan langit-langit yang tinggi ini, hawanya ternyata cukup sejuk jika dibandingkan saat di bawah tadi. Di sini juga ada beberapa kios yang menjual minuman dingin, pernak pernik, hingga perlengkapan sembahyang (gua ini masih dipakai untuk ritual keagamaan masyarakat keturunan India disini).

Saya maju lagi menyusuri gua. Eh ternyata di dalamnya masih ada tangga lagi yang mengarah ke atas. Meskipun capek, tapi sayang kalo enggak lanjut sampai ke ujung. Jadi saya jalan terus, sampai akhirnya di ujung gua ada pelataran luas dengan beberapa altar sembahyang di sisinya. Bagian atas gua disini terbuka, jadi cahaya matahari bisa masuk menyinari pelataran ini.

Sudah puas eksplorasi gua, saya turun lagi ke bawah. Sebenarnya di pertengahan tangga ada jasa tour untuk menyusuri bagian lain gua yang lebih alami dan lebih dalam. Kita bakal ikut satu rombongan dengan pemandu menyusuri bagian lain gua yang tidak terbuka untuk umum. Untuk ikut tour ini dikenakan biaya dan waktu itu antrinya cukup panjang, jadi saya skip aja.

Sampai di bawah, kepanasan dan kecapekan, saya beli minuman dingin dulu di minimarket yang ada di bawah. Beli minuman dingin seharga MYR 3. Sekalian ngadem juga di toko oleh-oleh yang ada ACnya.

Next, saya balik lagi ke stasiun Batu Caves untuk kembali ke KL Central. Dari KL Central, saya naik monorail lagi untuk menuju ke Petaling Street. Petaling Street ini adalah kawasan China Townnya Kuala Lumpur. Kalo malem disini banyak yang jualan makanan dan juga souvenir murah buat oleh-oleh. Tapi berhubung saya kesitu waktu masih agak sore, jadi beberapa toko masih tutup. Tapi itu pun sudah ramai sama pejalan kaki dan pedagang yang udah buka pun udah sibuk gembor2 menjajakan dagangannya. Di sini karena kebanyakan tempat makannya jualan seafood (saya gak makan seafood karena alergi) jadilah saya mampir beli makan di Texas Fried Chicken yang di Indonesia pun saya gak pernah makan. Menunya ya standar aja nasi+ayam+minum. Harganya kalo gak salah sekitar MYR 10. Saya milih makan disini juga karena ini satu2nya restoran berAC yang harganya masih masuk budget. Tempat makan lain adanya di pinggiran jalan, sedangkan cuacanya waktu itu lagi panas2nya. Jadi sekalian ngadem disini.

Selesai makan, karena kaki masih pegel banget efek dari naik turun tangga tadi, jadi saya istirahat dulu lumayan lama disini. Sebenarnya saya berencana ke Petronas lagi buat lihat show air mancur. Tapi berhubung kaki udah ga bisa diajak kompromi, saya memutuskan buat langsung berangkat ke bandara saja. Jadi dari Petaling Street, saya balik lagi ke KL Central untuk beli tiket bus menuju bandara. Berhubung tiket pulang ke Indonesia saya berangkat pagi banget jam 6, jadi daripada subuh2 harus naik taxi yang mahal mendingan saya nginep bandara lagi.

Loket penjualan tiket bus di KL Central ada di bagian bawah. Dari hall utama, menuju ke eskalator  arah mall tapi jangan naik, langsung menuju sebelah kanannya aja disitu aja eskalator turun ke bawah menuju loket penjualan tiket bus dan juga tempat pemberangkatannya. Kalo mau menuju Genting Highland via bus juga bisa beli tiket disini.

Tiket menuju Kuala Lumpur International Airport waktu itu harganya MYR 12 per orang. Busnya berangkat sesuai schedule meskipun belum penuh. Perjalanan menuju ke airport cukup lama, hampir 2 jam. Sampai airport waktu itu sudah sekitar jam 9 malam. Jadi saya langsung bergegas nyari tempat buat tidur. Di KLIA ini banyak tempat yang bisa kita pake buat tidur nyenyak. Waktu itu saya bahkan dapat 1 kursi panjang buat saya sendirian, jadi bisa selonjoran. Banyak juga orang yang tidur bareng disitu, dan CCTV juga tersedia, jadi sepertinya cukup aman buat nginap disini. Good night!

Pengeluaran Day 6:
- Sarapan : MYR 5.9
- Minuman : MYR 3
- Makan sore : MYR 10
- City transport (KTM, monorail) : +/-MYR 15
- Airport bus : MYR 12

Total : MYR 45.9

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencoba Onsen, Pemandian Air Panas di Jepang - Mandi Bareng Rame-rame

Onsen, atau pemandian air panas, adalah salah satu budaya masyarakat Jepang. Mereka sepertinya hobi banget berendam air panas di onsen ini. Dan uniknya, tidak seperti masyarakat kita yang berendam di pemandian air panas menggunakan pakaian renang, masyarakat Jepang berendam air panas tanpa menggunakan apa-apa. Polos. Rame-rame bareng orang lain yang kenal maupun yang gak kenal. Absurd pokoknya. Saat backpackeran ke Jepang tahun lalu, saya berkesempatan mencoba pengalaman unik dan nyeremin ini. Kenapa nyeremin? Karena pemandian cowok dan cewek dipisah, jadi saya musti bugi bareng pria pria lainnya. Ohmaigod.... Ceritanya, saya booking penginapan di salah satu hotel kapsul di Tokyo. Namanya Asakusa Riverside Capsule. Lokasinya sih bagus, strategis banget. Tepat di samping sungai dan dekat pintu keluar stasiun Asakusa. Dari awal booking sih saya udah tau kalo hotel kapsul kamar mandinya sharing, tapi saya gak nyangka ternyata sharingnya model onsen Jepang mandi bebarengan begini. ...

Upgrade ke e-paspor biar bebas visa ke Jepang

Sejak Desember 2014, Jepang membebaskan wisatawan Indonesia untuk masuk ke negaranya tanpa harus mengajukan visa yang prosedurnya njelimet. Syaratnya, harus sudah memiliki e-paspor. Ini cerita lama. Dulu paspor saya masih paspor biasa. Dan karena saya berencana mengunjungi Jepang pada akhir 2015, jadi saya memutuskan buat upgrade paspor lama saya menjadi e-paspor. Untuk upgrade ke e-paspor, prosedurnya hampir sama seperti proses buat paspor baru. Meskipun paspor lama saya masa berlakunya masih sampai 2018, tapi tetap diijinkan untuk membuat e-paspor baru. Untuk membuat e-paspor, tidak semua kantor imigrasi melayaninya. Hanya kantor imigrasi di DKI Jakarta, Surabaya dan Batam yang melayani pembuatan e-paspor. Biaya pembuatan e-paspor Rp 600.000. Prosedurnya bisa datang langsung ke kantor imigrasi atau daftar dulu lewat online. Perbedaannya hanya di antriannya saja yang dipisah. Waktu itu saya datang langsung ke kantor imigrasi di Jakarta Selatan, dengan pertimbangan, jika daf...

Cara Naik Bus dari Singapore ke Melaka

Lagi jalan-jalan di Singapore lalu tiba-tiba bingung ga tau mau kemana karena saking kecilnya negara itu? Mending ke Melaka aja! Melaka adalah salah satu Heritage City di Malaysia. Lokasinya ga terlalu jauh dari Singapore. Pagi berangkat, siang udah nyampe. Naik apa? Naik bus aja yang murah meriah hore. Caranya gimana? Tenang, saya jelasin caranya step by step. Cara paling mudah adalah naik bus langsung dari Singapore ke Melaka. Tapi karena blog ini isinya traveling murah, jadi saya jelasin cara murahnya, tapi tetep nyaman. Pertama, kita naik MRT ke Bugis Station. Dari stasiun keluar aja nyeberang Victoria Street sampai ketemu Bugis Street. Sampai ujung setelah keluar dari Bugis Street, jalan aja ke arah kanan menyusuri Queen Street. Setelah melewati 2x lampu merah, akan ada satu pelataran tempat bus-bus parkir di sebelah kiri jalan. Naik aja ke bus Causeway Link jurusan JB Sentral (Johor Bahru Sentral) dengan bayar tiket SGD3,3. Sebenarnya kita bisa naik bus kota biasa dengan n...