Langsung ke konten utama

Naik Bus dari Ho Chi Minh City Menuju Phom Penh - Backpackeran Keliling 3 Negara di Asia Tenggara (Vietnam, Kamboja, Thailand) 8 hari - Part 3



Day 3

Bangun pagi jam 5, kami langsung packing dan bersih-bersih. Jam 6 check out lalu lanjut sarapan di Circle K lagi dengan menu yang masih sama kayak kemaren (karena murah), lalu order Grab untuk menuju ke terminal keberangkatan bus yang akan membawa kami meninggalkan Vietnam menuju Kamboja. Lokasi busnya ada di seberang Terminal 23/9 yang kemaren. Jam 7:30 tepat, busnya berangkat. Perjalanan menuju kota Phnom Penh di Kamboja memakan waktu sekitar 6 jam.

Bus menuju Phnom Penh

Baru naruh pantat di kursi, si mas kernet busnya udah nyamperin semua penumpang buat nagih paspor satu per satu. Ternyata untuk melewati imigrasi via darat emang begitu prosedurnya. Jadi paspor yang udah dikumpulin oleh kernetnya tadi akan langsung diurus buat dicap sekaligus, jadi kami gak perlu ngantri satu per satu. Begitu nyampe di perbatasan keluar Vietnam, semua penumpang disuruh turun, lalu tinggal nunggu capnya selesai. Setelah dicap paspor akan dibagikan lagi oleh kernet tadi, lalu boleh masuk bus lagi. Setelah semua penumpang masuk bus, bus jalan lagi sebentar, lalu kami disuruh turun lagi buat antri di imigrasi Kamboja. Disini prosedurnya standar, yaitu semua penumpang musti antri sendiri satu per satu.



Gedung imigrasi

Beres imigrasi, bus lanjut jalan lagi. Memasuki Kamboja, pemandangan mulai nampak lebih kumuh dibandinkan Vietnam. Debu lebih banyak dan lebih berasa kotor. Sekitar jam 11 atau 12 siang bus bakal berhenti sebentar di salah satu rumah makan. Cara makan disini mirip kayak di warteg, tinggal tunjuk aja menunya. Per orang bayar USD 2 untuk 1 jenis lauk plus nasi dan minum. Mahal woy. Rumah makannya mirip kayak rumah makan yang biasa dipakai oleh bus antar kota di pantura. Di depannya juga ada beberapa orang pengemis.

Makan siang USD2

Kelar makan, lanjut jalan lagi. Sekitar jam 2 kami sampai di Phnom Penh, berhenti entah di bagian kota yang mana. Berbekal Google Maps yang udah saya download sebelumnya (jadi bisa dipake secara offline), kami tau kalo lokasi kami masih jauh dari penginapan yang udah kami booking. Jadi kami lalu mampir dulu ke salah satu cafe terdekat (Cafe Amazon - ini ada banyak banget cabangnya di Kamboja dan Thailand) buat numpang ke toilet dan minjem WiFi. Kopi disini enak dan murah. Harga kopinya cuma sekitar 25-35ribu tapi porsinya gede banget.



Kami sebenernya berencana naik tuktuk. Dari baru turun bus udah banyak banget sopir tuktuk yang nawarin kami buat naik tuktuk. Tapi karena kami takut kena scam, kami coba order tuktuk via aplikasi Grab, numpang WiFi di Cafe Amazon. Tempat kami nginep malam ini ada di area riverside, di pinggiran Sungai Mekong. Untuk menuju kesana, tarifnya KHR 6800 (mata uang lokalnya Khmer Riel atau Riel Kamboja). FYI, di Kamboja berlaku 2 mata uang, yaitu KHR dan juga USD, jadi kita bisa bayar pakai dua-duanya. Di setiap tempat juga biasanya ada 2 informasi harga, menggunakan KHR atau USD. Kalo bayar pake USD, kadang kita dapet kembalian KHR, tapi kalo bayar pake KHR, gak mungkin dapet kembalian USD. Saran kami sih, selama di Kamboja mending abisin itu duit KHR, karena gak laku dituker di negara lain.



Perjalanan naik tuktuk (yang mirip bajaj) menuju ke penginapan kami butuh waktu sekitar setengah jam. Kami melewati daerah pusat kota, alun-alun, hingga public area di sepanjang pinggiran sungai. Ternyata meskipun daerah pinggirannya kotor dan berdebu, di Phnom Penh jauh dari bayangan kami tentang Kamboja. Phnom Penh ternyata bersih, teratur, modern, dan banyak fasilitas yang memanjakan pejalan kaki. Bangunan-bangunannya juga unik. Di tengah kota sekalipun banyak bangunan dengan atap tradisional khas Khmer yang atapnya banyak ukiran keren dengan warna keemasan. Ternyata bangunan tradisional di Kamboja memiliki salah satu design atap tradisional paling keren yang pernah saya lihat.


Naik Grab Tuktuk



Setelah check in dan bersih-bersih, kami menghabiskan sore dengan jalan-jalan di pinggiran Sungai Mekong. Area riverside di Phnom Penh lumayan mengingatkan saya pada Clarke Quay di Singapore. Jalur pejalan kakinya luas banget, bersih, bebas kendaraan bermotor. Banyak penduduk lokal yang menghabiskan sore harinya disini sambil olahraga, ngajak anjing jalan-jalan, main sepak takraw, main tenis, nge-gym (iya, ada fasilitas gym gratis), atau cuman nongkrong santai disini. Seandainya di Jakarta ada tempat kayak gini.

Riverside - Sungai Mekong

Di sepanjang riverside juga banyak banget restoran, cafe, tempat makan, hotel, travel agent, dll. Ada juga Phnom Penh Nigh Market. Pokoknya daerah ini turis banget deh. Kami melipir ke salah satu travel agent buat cari paket tour ke Killing Fields dan Tuol Sleng museum buat besok. Kenapa kami pengen ikut tour? Karena dibanding jalan ngeteng, ternyata lebih irit ikut tour. Kalo jalan ngeteng, karena di Phnom Penh ini gak ada bus umum, jadi kami musti sewa tuktuk, yang biayanya bisa sampai USD20 sekali jalan. Padahal untuk ke Killing Fields lokasinya agak di pinggiran kota, so biayanya bisa jadi lebih mahal. Nah, kalo ikut tour, kami nemu paket tour ke 2 tempat tersebut yang biaya per orangnya cuma USD10, include bus berAC, dijemput di hotel, ada tour guide, dan dapet air minum dingin. Jauh lebih irit kan?




Malamnya, kami jalan kaki sejauh 2km menuju ke Aeon Mall. Lah, jauh-jauh ke Kamboja, ngapain ke mall? Sebenernya cuma mau cari makan aja sih, karena di Aeon kan ada food court murah di bawahnya. Jadi daripada makan di restoran riverside yang mahal-mahal itu, kami jalan aja ke Aeon. Saya makan nasi kotak dengan menu roasted pork dengan harga cuma USD1,5. Minum bawa sendiri. Murah kan? O iya, Aeon Mall disini ternyata gak sebesar yang di Jakarta. Disini cuma 3 lantai, dan areanya pun gak terlalu luas. Mungkin karena penduduk Phnom Penh gak terlalu banyak juga kali ya.


Aeon Mall Phnom Penh

Kelar dari Aeon, kami balik lagi ke hotel naik Grab Tuktuk seharga KHR6000.

Biaya Hari ke-3
- Sarapan Circle K : VND20.000 = IDR14.000
- Makan siang : USD2 = IDR28.000
- Cafe Amazon : USD2,5 = IDR35.000
- Grab Tuktuk : KHR6800 = IDR24.000
- Check in hotel 1 malam : IDR119.500/orang
- Makan malam di Aeon : USD1,5 = IDR21.000
- Grab Tuktuk : KHR6000 = IDR21.300
Total : IDR262.800

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencoba Onsen, Pemandian Air Panas di Jepang - Mandi Bareng Rame-rame

Onsen, atau pemandian air panas, adalah salah satu budaya masyarakat Jepang. Mereka sepertinya hobi banget berendam air panas di onsen ini. Dan uniknya, tidak seperti masyarakat kita yang berendam di pemandian air panas menggunakan pakaian renang, masyarakat Jepang berendam air panas tanpa menggunakan apa-apa. Polos. Rame-rame bareng orang lain yang kenal maupun yang gak kenal. Absurd pokoknya. Saat backpackeran ke Jepang tahun lalu, saya berkesempatan mencoba pengalaman unik dan nyeremin ini. Kenapa nyeremin? Karena pemandian cowok dan cewek dipisah, jadi saya musti bugi bareng pria pria lainnya. Ohmaigod.... Ceritanya, saya booking penginapan di salah satu hotel kapsul di Tokyo. Namanya Asakusa Riverside Capsule. Lokasinya sih bagus, strategis banget. Tepat di samping sungai dan dekat pintu keluar stasiun Asakusa. Dari awal booking sih saya udah tau kalo hotel kapsul kamar mandinya sharing, tapi saya gak nyangka ternyata sharingnya model onsen Jepang mandi bebarengan begini. ...

Upgrade ke e-paspor biar bebas visa ke Jepang

Sejak Desember 2014, Jepang membebaskan wisatawan Indonesia untuk masuk ke negaranya tanpa harus mengajukan visa yang prosedurnya njelimet. Syaratnya, harus sudah memiliki e-paspor. Ini cerita lama. Dulu paspor saya masih paspor biasa. Dan karena saya berencana mengunjungi Jepang pada akhir 2015, jadi saya memutuskan buat upgrade paspor lama saya menjadi e-paspor. Untuk upgrade ke e-paspor, prosedurnya hampir sama seperti proses buat paspor baru. Meskipun paspor lama saya masa berlakunya masih sampai 2018, tapi tetap diijinkan untuk membuat e-paspor baru. Untuk membuat e-paspor, tidak semua kantor imigrasi melayaninya. Hanya kantor imigrasi di DKI Jakarta, Surabaya dan Batam yang melayani pembuatan e-paspor. Biaya pembuatan e-paspor Rp 600.000. Prosedurnya bisa datang langsung ke kantor imigrasi atau daftar dulu lewat online. Perbedaannya hanya di antriannya saja yang dipisah. Waktu itu saya datang langsung ke kantor imigrasi di Jakarta Selatan, dengan pertimbangan, jika daf...

Cara Naik Bus dari Singapore ke Melaka

Lagi jalan-jalan di Singapore lalu tiba-tiba bingung ga tau mau kemana karena saking kecilnya negara itu? Mending ke Melaka aja! Melaka adalah salah satu Heritage City di Malaysia. Lokasinya ga terlalu jauh dari Singapore. Pagi berangkat, siang udah nyampe. Naik apa? Naik bus aja yang murah meriah hore. Caranya gimana? Tenang, saya jelasin caranya step by step. Cara paling mudah adalah naik bus langsung dari Singapore ke Melaka. Tapi karena blog ini isinya traveling murah, jadi saya jelasin cara murahnya, tapi tetep nyaman. Pertama, kita naik MRT ke Bugis Station. Dari stasiun keluar aja nyeberang Victoria Street sampai ketemu Bugis Street. Sampai ujung setelah keluar dari Bugis Street, jalan aja ke arah kanan menyusuri Queen Street. Setelah melewati 2x lampu merah, akan ada satu pelataran tempat bus-bus parkir di sebelah kiri jalan. Naik aja ke bus Causeway Link jurusan JB Sentral (Johor Bahru Sentral) dengan bayar tiket SGD3,3. Sebenarnya kita bisa naik bus kota biasa dengan n...